RELAKAN
CINTA DEMI CITA
Detik-detik kelulusan
SMA se-Indonesia akan segera di umumkan. Cemas, bimbang, bahagia, sedih, dan
senang kurasakan saat ini. Resah dan gelisah akan apa yang terjadi setelah aku
lulus atau tidaknya nanti tercampur jadi satu dalam benakku. ‘’ Hallo, sayang,
sayang “ panggil Nathan dan seketika aku tersadar dari lamunanku. Cantika
Rosalina namaku, dan bisa di panggul Rosa, ini nama pemberian dari kedua orang
tuaku untukku. Aku sekolah di SMA 14 Bandung, tempat yang telah terlukis sebuah
cerita tentang aku dan Nathan. Nathan Denio, orang kedua yang sangat berharga
setelah keluarga. Orang yang selalu menemaniku di rumah, di sekolah, dan
dimanapun. Pagi, siang, sore, saat senang sedih, sakit, sehat dia selalu ada
kapanpun dan dimanapun aku ada. Sudah hamper 3 tahun aku menjalin hubungan
dengannya. Kesetiaan, perhatian, pengertian, kejujuran dan kemesraan yang kita
pegang teguh dimanapun kita berada membuat semakin indahnya hubungan kami. ‘’
Tak apa Nathan, aku hanya memikirkan pengumuman nanti.’’ Jelasku pada Nathan.
‘’ Berfikir positiflah sayang, pasti lulus kok. Ini minum dulu es krimnya,
sudah jam setengah 3 ini sedangkan kita harus sampai sekolah jam 3 tepat. Nanti
kalau sudah habis kita langsung berangkat.’’ Pintanya. Segera kuhabiskan es
krimku dan kita segera berangkat ke sekolah.
Kami pun tiba tepat pukul 3 sore.
Benar-benar perjalanan secepat kilat dengan mengendarai motor Nathan. Setelah
masuk gerbang sekolah, aku mendapati semua teman-temanku dengan raut wajah yang
berbeda-beda. Ada yang bimbang, takut, nyantai, dan biasa-biasa saja. Aku pun menatap
Nathan dengan pandangan sedih, tak kusangka dia melihatku ‘’ Kenapa sayang, kok lihat aku jadi sedih
gitu?’’ Tanya Nathan. Aku hanya diam tak menjawab petanyaan Nathan. Setelah bu
Shinta dating dengan membawa amplop yang mungkin di dalamnya adalah surat
kelulusan. Bu Shinta membagikan amplop itu kepada kami dan semua berteriak ‘’
LULUS 100% ‘’ . Aku sangat senang walaupun kadang aku teringat sesuatu yang
membuatku sedih. Ya, aku akan melanjutkan pendidikanku di NUS ( National University Of Singapore ) di
fakultas kedokteran tepatnya. Aku mendapat beasiswa di sana. Sebenarnya ini
adalah cita-citaku dari dulu, tapi disisi lain aku sedih karna harus jauh dari
keluargaku, teman-temanku dan Nathan pastinya. Entah apa yang terjadi nantinya,
apakah aku akan pergi dengan membawa cinta Nathan yang akan berakibat aku tidak
konsentrasi nantinya di sana, atau aku harus mengakhiri hubungan kami sampai di
sini.
Pikirku melayang jauh, di sini,
ditempat yang sepi ini, sendiri. Setelah perpisahan sekolah tadi aku tidak
langsung pulang kerumah,. Aku sudah izin sama papaku untuk pergi ke taman, aku
ada janji dengan Nathan. Aku akan ceritakan semua pada Nathan, tentang
kepergianku ke NUS nanti. Sebenarnya aku pernah meminta pendapat dari orang
tuaku, mereka menyuruhku untuk tidak mengambil beasiswa karna papa masih bisa
menguliahkanku di Bandung, dan satu lagi, aku tidak akan jauh dari Nathan. Tapi
aku menolaknya, karna kuliah di luar negeri adalah cita-citaku dan aku harus
meraihnya, dan aku yakin Nathan pasti bisa mengerti.
‘’ Maaf sayang aku telat, soalnya
tadi ada foto bareng sama anggota OSIS, sudah nunggu lama ya? ‘’. Kata Nathan
sambil terengah-engah, sepertinya dia tadi habis lari. Hari ini dia sangat
tampan, dengan kemeja putihnya yang dipadukan dengan celana jeans hitam
kecoklatan. ‘’ Nggak kok, nggak lama. ‘’ jawabku singkat. “Mau ngomong apa
sayang, kok kayaknya penting banget?.’’ Tanyanya. Aku bingung harus mulai dari
mana yang pasti hatiku saat ini sedang kacau dan takut, takut kehilangannya. ‘’
Sebenarnya.. emm.. Sebenarnya aku ngomong kalau sebulan lagi aku...’’ aku mulai
terisak dengan kata-kataku tadi ‘’Sebulan lagi aku akan pergi ke Singapore, aku
mendapat beasiswa di sana dank u harap kamu mengerti.’’ Lanjutku, dan tangisku
mulai pecah, kulihat Nathan pun tersentak kaget dan mulai menatapku sedih
‘’Maaf aku baru memberitahumu, aku takut melukai hatimu sebelumnya, maaf.’’
Kataku lagi, kulihat tatapannya semakin dalam dan sepertinya dia juga ingin
menangis karna penyataanku tadi. ‘’ Jangan menangis sayang, jangan sedih, aku
tega lihat kamu nangis dan sedih seperti ini. Aku tahu maksudmu Rosa, aku
mengerti hatimu. Pergilah demi cita-citamu, kebahagiaanmu adalah segalanya
bagiku. Aku memang mencintaimu, aku juga menyayangimu, tapi aku tak harus
selalu bersamamu. Yang terpenting sekarang adalah masa depan kita, apapun yang
terjadi aku akan sayang kamu, walau mungkin kau nanti bukan kekasihku lagi,
karna kamu adalah teman perempuanku yang sangat berharga bagiku hari ini, esok
, dan kapanpun. Berjanjilah untuk selalu menjaga dirimu di sana.’’ Kata Nathan
yang membuatku semakin terisak. Aku benar-benar mengerti apa kata Nathan, aku
harus bisa melepas cintaku demi cita-citaku. Dalam hatiku, trimakasih Nathan,
kasih dan sayangmu tak akan pernah ku lupa. Aku akan selalu sayangimu sebagai
temanku. Aku janji akan selalu menjaga diriku baik-baik. Jika nanti kita jodoh,
pasti Tuhan akan mempersatukan kita lagi. Kapanpun dimanapun dan dalam kondisi
apapun. Aku akan pulang dengan kesuksesanku atas harapan dan cita-cita yang
telah kuraih.








