Sabtu, 29 Agustus 2015

Cerpen '' Relakan Cinta Demi Cita '' ( Mayuna )

RELAKAN CINTA DEMI CITA

                Detik-detik kelulusan SMA se-Indonesia akan segera di umumkan. Cemas, bimbang, bahagia, sedih, dan senang kurasakan saat ini. Resah dan gelisah akan apa yang terjadi setelah aku lulus atau tidaknya nanti tercampur jadi satu dalam benakku. ‘’ Hallo, sayang, sayang “ panggil Nathan dan seketika aku tersadar dari lamunanku. Cantika Rosalina namaku, dan bisa di panggul Rosa, ini nama pemberian dari kedua orang tuaku untukku. Aku sekolah di SMA 14 Bandung, tempat yang telah terlukis sebuah cerita tentang aku dan Nathan. Nathan Denio, orang kedua yang sangat berharga setelah keluarga. Orang yang selalu menemaniku di rumah, di sekolah, dan dimanapun. Pagi, siang, sore, saat senang sedih, sakit, sehat dia selalu ada kapanpun dan dimanapun aku ada. Sudah hamper 3 tahun aku menjalin hubungan dengannya. Kesetiaan, perhatian, pengertian, kejujuran dan kemesraan yang kita pegang teguh dimanapun kita berada membuat semakin indahnya hubungan kami. ‘’ Tak apa Nathan, aku hanya memikirkan pengumuman nanti.’’ Jelasku pada Nathan. ‘’ Berfikir positiflah sayang, pasti lulus kok. Ini minum dulu es krimnya, sudah jam setengah 3 ini sedangkan kita harus sampai sekolah jam 3 tepat. Nanti kalau sudah habis kita langsung berangkat.’’ Pintanya. Segera kuhabiskan es krimku dan kita segera berangkat ke sekolah.
            Kami pun tiba tepat pukul 3 sore. Benar-benar perjalanan secepat kilat dengan mengendarai motor Nathan. Setelah masuk gerbang sekolah, aku mendapati semua teman-temanku dengan raut wajah yang berbeda-beda. Ada yang bimbang, takut, nyantai, dan biasa-biasa saja. Aku pun menatap Nathan dengan pandangan sedih, tak kusangka dia melihatku  ‘’ Kenapa sayang, kok lihat aku jadi sedih gitu?’’ Tanya Nathan. Aku hanya diam tak menjawab petanyaan Nathan. Setelah bu Shinta dating dengan membawa amplop yang mungkin di dalamnya adalah surat kelulusan. Bu Shinta membagikan amplop itu kepada kami dan semua berteriak ‘’ LULUS 100% ‘’ . Aku sangat senang walaupun kadang aku teringat sesuatu yang membuatku sedih. Ya, aku akan melanjutkan pendidikanku di NUS ( National University Of Singapore ) di fakultas kedokteran tepatnya. Aku mendapat beasiswa di sana. Sebenarnya ini adalah cita-citaku dari dulu, tapi disisi lain aku sedih karna harus jauh dari keluargaku, teman-temanku dan Nathan pastinya. Entah apa yang terjadi nantinya, apakah aku akan pergi dengan membawa cinta Nathan yang akan berakibat aku tidak konsentrasi nantinya di sana, atau aku harus mengakhiri hubungan kami sampai di sini.
            Pikirku melayang jauh, di sini, ditempat yang sepi ini, sendiri. Setelah perpisahan sekolah tadi aku tidak langsung pulang kerumah,. Aku sudah izin sama papaku untuk pergi ke taman, aku ada janji dengan Nathan. Aku akan ceritakan semua pada Nathan, tentang kepergianku ke NUS nanti. Sebenarnya aku pernah meminta pendapat dari orang tuaku, mereka menyuruhku untuk tidak mengambil beasiswa karna papa masih bisa menguliahkanku di Bandung, dan satu lagi, aku tidak akan jauh dari Nathan. Tapi aku menolaknya, karna kuliah di luar negeri adalah cita-citaku dan aku harus meraihnya, dan aku yakin Nathan pasti bisa mengerti.

            ‘’ Maaf sayang aku telat, soalnya tadi ada foto bareng sama anggota OSIS, sudah nunggu lama ya? ‘’. Kata Nathan sambil terengah-engah, sepertinya dia tadi habis lari. Hari ini dia sangat tampan, dengan kemeja putihnya yang dipadukan dengan celana jeans hitam kecoklatan. ‘’ Nggak kok, nggak lama. ‘’ jawabku singkat. “Mau ngomong apa sayang, kok kayaknya penting banget?.’’ Tanyanya. Aku bingung harus mulai dari mana yang pasti hatiku saat ini sedang kacau dan takut, takut kehilangannya. ‘’ Sebenarnya.. emm.. Sebenarnya aku ngomong kalau sebulan lagi aku...’’ aku mulai terisak dengan kata-kataku tadi ‘’Sebulan lagi aku akan pergi ke Singapore, aku mendapat beasiswa di sana dank u harap kamu mengerti.’’ Lanjutku, dan tangisku mulai pecah, kulihat Nathan pun tersentak kaget dan mulai menatapku sedih ‘’Maaf aku baru memberitahumu, aku takut melukai hatimu sebelumnya, maaf.’’ Kataku lagi, kulihat tatapannya semakin dalam dan sepertinya dia juga ingin menangis karna penyataanku tadi. ‘’ Jangan menangis sayang, jangan sedih, aku tega lihat kamu nangis dan sedih seperti ini. Aku tahu maksudmu Rosa, aku mengerti hatimu. Pergilah demi cita-citamu, kebahagiaanmu adalah segalanya bagiku. Aku memang mencintaimu, aku juga menyayangimu, tapi aku tak harus selalu bersamamu. Yang terpenting sekarang adalah masa depan kita, apapun yang terjadi aku akan sayang kamu, walau mungkin kau nanti bukan kekasihku lagi, karna kamu adalah teman perempuanku yang sangat berharga bagiku hari ini, esok , dan kapanpun. Berjanjilah untuk selalu menjaga dirimu di sana.’’ Kata Nathan yang membuatku semakin terisak. Aku benar-benar mengerti apa kata Nathan, aku harus bisa melepas cintaku demi cita-citaku. Dalam hatiku, trimakasih Nathan, kasih dan sayangmu tak akan pernah ku lupa. Aku akan selalu sayangimu sebagai temanku. Aku janji akan selalu menjaga diriku baik-baik. Jika nanti kita jodoh, pasti Tuhan akan mempersatukan kita lagi. Kapanpun dimanapun dan dalam kondisi apapun. Aku akan pulang dengan kesuksesanku atas harapan dan cita-cita yang telah kuraih.

2 komentar:

  1. Waw..
    http://nuramilla.blogspot.co.id/?m=1..jhahaha iklan sedikit kan gpp.
    Mari visit.

    BalasHapus